Prabu dan Puteri merupakan drama karya M.H. Rustandi Kartakusuma yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1950 dengan tebal 180 halaman (ukuran 24 x 16 cm). Sampul depan buku menampilkan sepasang sosok yang terkait dengan tokoh drama itu.
Bahan cerita Prabu dan Puteri digali dari kisah sejarah dan cerita rakyat Pasundan tentang Prabu Gajah Malela, raja negeri Galuh Pakuan Pajajaran, ketika akan menghadapi bala tentara Raja Majapahit. Para pelaku atau tokoh-tokoh yang berperan dalam drama ini berjumlah tujuh orang, yaitu (1) Prabu Gadjah Malela, raja negeri Galuh Pakuan Pajajaran yang memiliki kekuasaan atas rakyat, bangsa, dan negaranya, (2) Panji Kudawanengpati, putra mahkota yang beristrikan rakyat jelata, (3) Putri Tejakingkin, seorang putri rakyat jelata yang rela berkorban jiwa dan raga demi kepentingan negara dengan cara bunuh diri, (4) Permaisuri Ratna Ayu Kencana Wungu, permaisuri raja yang membela kebenaran anak-anaknya, (5) Rajaputra Pangeran Jaka Mangunlaya, putra raja yang bertugas membunuh kakak iparnya, (6) Resi Brihaspati, penasihat raja, dan (7) Patih Aria Gelap Nyawang, wakil raja yang berperan mengatur keselamatan bangsa dan negara.
Prabu dan Puteri menceritakan kegelisahan Prabu Gadjah Malela yang harus menikahkan putranya, Panji Kudawanengpati, dengan Sekartaji dari kerajaan Majapahit. Raja tidak ingin mengingkari janjinya kepada Kerajaan Majapahit, tetapi juga tidak tega harus memisahkan putranya dengan istrinya yang berasal dari rakyat jelata, Putri Tejakingkin, yang sangat dicintainya.
Sementara itu, para hulubalang punggawa istana dan menteri-menteri di Kerajaan Galuh Pakuan mengkhawatirkan akan terjadi perang antara Majapahit dan Galuh Pakuan Pajajaran. Resi Brihaspati dan Patih Gelap Nyawang memberi saran-saran kepada raja agar mendahulukan kepentingan dan keselamatan negara serta bangsa di atas kepentingan pribadi. Rakyat yang tidak berdosa jangan sampai menjadi korban peperangan tersebut demi ambisi pribadi. Atas saran kedua punggawa istana itu, raja berkenan memenuhi janji Raja Majapahit dengan cara memisahkan Panji Kudawanengpati dengan Putri Tejakingkin.
Jaka Mangunlaya yang memilih tugas membunuh Putri Tejakingkin di Sirna Manah menjadi ragu-ragu. Ia tidak sampai hati harus melukai, apalagi harus membunuh kakak iparnya yang cantik jelita itu. Namun, Putri Tejakingkin rela berkorban jiwa raganya demi kepentingan negara. Putri Tejakingkin bunuh diri dengan keris milik adik iparnya. Prabu Gadjah Malela sangat senang dengan berita kematian Puteri Tejakingkin. Ia segera dapat memenuhi janjinya kepada Raja Majapahit.
Sekembalinya dari tugas negara dan mengetahui bahwa istrinya, Tejakingkin, telah meninggal dunia, Kudawanengpati terpukul hingga menjadi gila. Permaisuri Tarna Ayu Kencana Wungu yang membela anaknya diusir raja keluar istana. Prabu Gadjah Malela tidak dapat memenuhi janji kepada Raja Majapahit karena kegilaan Kudawanengpati. Perang antara Majapahit dan Galuh Pakuan pun tidak terhindarkan. Rakyat yang tidak berdosa menjadi korban akibat ambisi pribadi raja.
Prabu dan Putri karangan sastra drama M. Rustandi Kartakusuma tergolong drama baca. Dialog yang panjang antartokoh menempatkan teks drama ini sebagai drama yang cocok untuk dibaca, tetapi tidak untuk dipentaskan. Pikiran yang terungkap dalam dialog antara tokoh itu menunjukkan adanya kecenderungan untuk menempatkan teks drama sebagai sarana pengungkap nilai-nilai perjuangan dalam hidup bernegara.