Ronggeng Dukuh Paruk merupakan salah satu novel Ahmad Tohari. Novel ini merupakan buku pertama Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Novel kedua berjudul Lintang Kemukus Dini Hari, dan novel ketiga berjudul Jantera Bianglala.
Novel ini terbit pertama kali tahun 1982 di PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Cetakan ketiga diterbitkan oleh penerbit yang sama, November 1988. Cetakan keempat diterbitkan juga oleh Gramedia Pustaka Utama Februari 1992 dan cetakan kelima pun diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama Februari 1999 dengan jumlah 174 halaman. Pada tahun 2003 dan November 2011, trilogi ini disatukan menjadi satu buku dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk.
Novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan rekaman kehidupan dan adat kebiasaan masyarakat Dukuh Paruk. Dukuh Paruk, dalam cerita itu adalah sebuah desa yang terpencil di Jawa, sangat miskin, dan terbelakang, baik kehidupan ekonomi, budaya, maupun pendidikannya. Gambaran kemelaratan di desa Dukuh Paruk itu terpelihara secara lestari karena kebodohan dan kemalasan penghuninya.
Dalam novel ini yang paling mencolok adalah kisah yang disajikan pengarang tentang asal-usul penduduk daerah itu dan kehidupan mereka yang tergantung pada kehidupan ronggeng, seperti yang terbayang dari judul buku itu. Nenek moyang penduduk Dukuh Paruk itu bernama Ki Sacamenggala, seorang bromocorah yang menjadi musuh kehidupan masyarakat. Akan tetapi, setelah ia tiada dan dikuburkan di punggung bukit kecil di tengah-tengah Dukuh Paruk, kuburan itu menjadi pusat kehidupan kebatinan mereka. Perilaku penduduk Dukuh Paruk itu tergambar dari gumpalan abu kemenyan di kuburan Ki Secamenggala. Menabuh calung dan gendang, serta meronggeng adalah kegiatan mereka yang menghidupkan desa itu. Tidak ada pendidikan moral, etika, dan agama di desa itu. Oleh karena itu, jika seorang perempuan ingin menjadi ronggeng ia harus berpedoman pada apa yang diajarkan atau yang dikehendaki oleh leluhur mereka, Ki Secamenggala. Untuk mengetahui keinginan orang yang sudah mati itu diadakan upacara sesajian agar arwah nenek moyang itu hadir. Di samping itu, seseorang yang ingin menjadi ronggeng harus melalui berbagai syarat, antara lain, harus bersedia melalui upacara bukak klambu, yaitu sayembara untuk memperoleh keperawanan calon ronggeng dengan membayarkan uang yang jumlahnya sangat tinggi sesuai dengan permintaan dukun ronggeng yng mengasuh calon ronggeng itu. Itulah yang harus dilakukan oleh tokoh Srintil yang ingin menjadi ronggeng dalam cerita itu.
Bagi masyarakat Dukuh Paruk seorang ronggeng adalah segala-galanya. Bahkan seorang istri akan sangat berbangga apabila suaminya sanggup mendapatkan keperawanan ronggeng itu. Oleh karena itu, setelah menjadi ronggeng Srintil sangat dipuja-puja oleh penduduk Dukuh Paruk. Sebaliknya, bagi tokoh Rasus, teman sepermainan Srintil sejak kecil, hal itu menjadi jurang pemisah yang menyakitkan hati karena a merasakan ada sesuatu yang hilang, yaitu byang-bayang emaknya yang tidak pernah dikenalnya sejak kecil karena tewas dalam prahara tempe bongkrek, tetapi menjelma dalam diri Srintil. Adat kebiasaan memuja-muja ronggeng hanya dimiliki oleh penduduk Daerah Dukuh Paruk.
Di luar daerah Dukuh Paruk, citra Srintil yang sudah menjadi ronggeng itu dianggap sangat rendah derajatnya, ia disamakan dengan wanita asusila. Jadi, tampaknya pengarang ingin mengembangkan tema cerita bahwa masyarakat yang tidak mau meningkatkan kualitas kerja dan pengetahuannya akan tetap menjadi masyarakat yang statis, seperti yang dialami oleh masyarakat Dukuh Paruk yang hanya patuh dan taat pada kegaiban arwah Ki Secamenggala. Mereka itu tetap menjadi masyarakat yang malas, bodoh, dan miskin. Walaupun ada pasangan suami istri, ada anak atau cucu, tokoh-tokoh dalam cerita itu ditampilkan sebagai anggota masyarakat yang tidak mengenai nilai-nilai yang membentuk lembaga terkecil, seperti suatu lembaga perkawinan yang harus dihormati dan ditaati. Bahkan, yang seharusnya merupakan nilai tertinggi bagi seorang gadis, kegadisannya, disayembarakan. Bagi Rasus, yang mencintai Srintil, calon ronggeng Dukuh Paruk itu hal itu sangat dibencinya. Lagi pula Srintil sendiri bersedia diperlakukan demikian.
Menurut beberapa pengamat, buku ini merupakan buku yang menarik untuk dibaca dan diteliti karena selain isi yang disampaikannya merupakan hal yang jarang ditemukan, juga penggunaan bahasanya yang vulgar di sana-sini sangat mendukung suasana dan masyarakat dan adat istiadatnya yang ingin pengarang perkenalkan. Masyarakat Dukuh Paruk adalah masyarakat yang unik yang kehidupannya dan adat istiadatntnya berkiblat pada tokoh bromocorah. Hal yang baik lagi dilihat dari segi isinya adalah bahwa ditampilkannya tokoh Rasus, walaupun ia lahir di Dukuh Paruk dan tidak berpendidikan sama seperti yang lainnya, ia diciptakan menjadi tokoh antagonis yang menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaannya yang lebih halus daripada tokoh Srintil dan lainnya, terutama setelah ia bergaul dengan orang-orang yang berasal dari dunia di luar Dukuh Paruk.
Dalam majalah Tempo 19 Februari 1983 Sapardi Djoko Damono berpendapat bahwa pengarang Ronggeng Dukuh Paruk itu dalam bukunya ini dapat mendongeng lebih lancar jika dibandingkan dengan ceritanya dalam Kubah. Penggambaran tokoh-tokoh yang sederhana seringkali sangat menarik. Kemudian Dr. H.J.M. Meier dalam Orion, April 1984 terkesan oleh cara pengarang membangkitkan gambaran yang tandas dengan sangat mengasyikkan yang mungkin mengikis khayalan indah pembaca tentang kehidupan pedesaan di Jawa. Seorang Jepang bernama Shinobu Yamane, karena sangat tertarik oleh isi novel Ronggeng Dukuh Paruk, ia menerjemahkan novel itu ke dalam bahasa Jepang. Bahkan, karena tertarik pula oleh novel lanjutannya, yang kedua, Lintang Kemukus Dinihari (1985) dan yang ketiga dari Trilogi itu, Jantera Bianglala (1986) kemudian ia menerjemahkan kedua novel tersebut.
Ronggeng Dukuh Paruk sudah terbit dalam edisi bahasa Jepang sejak tahun 1986. Mungkin karena menariknya novel ini, menurut salah satu keterangan yang ada pada bagian depan buku itu, novel Ronggeng Dukuh Paruk telah diteliti dan dijadikan bahan penulisan skripsi sarjana oleh lebih dari 20 orang mahasiswa tingkat sarjana FSUI. Banyaknya jumlah orang yang membicarakan novel ini, seperti Dr. H.J.M. Meier, 20 orang mahasiswa dan adanya minat orang asing untuk menerjemahkannya membuktikan bahwa novel ini mempunyai kedudukan yang cukup bernilai.
Ronggeng Dukuh Paruk sudah dua kali diadaptasi menjadi film. Film adaptasi pertama adalah Darah dan Mahkota Ronggeng (1983) yang disutradarai oleh Yazman Yazid dan dibintangi Ray Sahetapy dan Enny Beatrice. Film adaptasi kedua adalah Sang Penari (2011) yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah dan dibintangi Prisia Nasution dan Oka Antara. Film adaptasi kedua ini berhasil meraih sepuluh nominasi Festival Film Indonesia 2011 dan berhasil memenangkan empat Piala Citra untuk penghargaan utama