Simphoni merupakan judul kumpulan sajak pertama Subagio Sastrowardojo itu diambil dari judul sajak ke-23. Buku itu diterbitkan sendiri oleh pengarangnya tahun 1957 di di Yogya sejumlah 26 halaman. Setiap eksemplar buku dibubuhi tanda tangan pengarang pada bagian dalam kulit belakang buku itu. Buku ini diterbitkan dalam jumlah yang terbatas pada tahun 1957.
Kumpulan sajak itu berisi 23 sajak dengan judul (1) "Dewa Telah Mati", (2) "Jarak", (3) "Monolith", (4) "Burung", (5) "Setasion", (6) "Lahir Sajak", (7) "Sajak", (8) "Ali Baba", (9) "Ekspresi", (10) "Rasa Dosa", (11) "Merah", (12) "Tanda", (13) "Adam di Firdaus", (14) "Kapal Nuh" (15) "Bulan Ruwah", (16) "Afrika Selatan", (17) "Sodom dan Gomorrha", (18) "Kateckisasi", (19) "Abad 20", (20) "Kota Suci", (21) "Keharusan", (22) "Kampung", dan (23) "Simphoni".
Kumpulan sajak itu dicetak ulang oleh penerbit Pustaka Jaya tahun 1971berjumlah 52 halaman dan desain kulit dikerjakankan oleh Oesman Effendi. Cetakan kedua ini dilengkapi dengan tulisan H.B. Jassin yang mengulas sajaknya itu sebagai jawaban catatan Subagio Sastrowardojo yang pernah dimuat dalam majalah Mimbar Indonesia. Tulisan H.B. Jassin tentang Simphoni dimuat dalam buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai jilid II, tahun 1962.
Pada cetakan ketiga, Januari 1975, Simphoni diterbitkan oleh Pustaka Jaya; desain kulit dilakukan oleh A. Wakijan dan dicetak oleh PT Bumi Restu, Jakarta setebal 50 halaman. Isinya sama dengan cetakan kedua. Pada halaman judul tertera tulisan milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta tidak diperjualbelikan.
Pada cetakan keempat judulnya diubah menjadi Simphoni Dua karena sajak yang ada di dalamnya sudah bertambah banyak, yang merupakan lanjutan dari kumpulan sajak Simphoni. Buku Simphoni Dua diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1990. Isi Simfoni Dua, selain yang terdapat dalam kumpulan sajak Simphoni, bertambah dengan (1) "Nada Awal", (2) "Motif", (3) "Kenikmatan-Kenikmatan", (4) "Doa Seorang WTS", (5) "Aku Tidak Bisa Menulis Sajak Lagi", (6) "Kisah Kasih", (7) "Dunia Kini Tidak Peka", (8) "Aku dan Saudaraku", (9) "Gending Dolanan", (10) "Ambarawa 1989", (11) "Ananda Sayang", (12) "Lamunan Aborigin", (13) "Paskah Di Kentucky Fried Chicken", (14) "Motif II", (15) "Salam kepada Heidegger", (16) "Sajak Tak Pernah Mati", (17) "Om", (18) "Seakan-akan", (19) "Berilah Aku Kota", (20) "Motif III", (21) "Riwayat", (22) "Petualang", (23) "Jendela", (24) "Soneta Laut", (25) "Lima Sajak tentang Perempuan": I Pengakuan; II Bayi: III Rumah: IV Di Stasion" dan V Perempuan Tua, (26) "Sajak untuk Aida", (27) "Motif IV", (28) "Senja", (29) "Surat", (30) "Penantian", (31) "Di Seberang Mimpi", (32) "Tanpa Berkata", (33) "Menunggu Sampai Pagi", (34) "Pertemuan", (35) "Motif V", (36) "Pada Daun Gugur", (37) "Variasi pada Tema Maut"; I: Maut, II: Mabuk, III: Air, IV: Bunga, V: Terlena, VI: Sunyi, VII: Kembali, VIII: Firdaus, IX: Ilir-ilir, X: Wasiat, (38) "Istirahat", (39) "Tamu", (40) "Flamboyan", dan (41) "Nada Akhir".
Kedudukan Simphoni dalam sastra Indonesia sangat berarti karena sajak-sajak itu merupakan rangkaian ide dan corak sajak-sajak Subagio Sastrowardojo yang terbit lebih kemudian hingga tahun 1990 (sampai dengan terbitnya Simphoni Dua). Berarti lebih dari 30 tahun kumpulan sajak itu telah tiga kali dicetak ulang dan banyak dibicarakan orang, antara lain pernah diteliti oleh Rachmat Djoko Pradopo, dan beberapa kali dijadikan bahan skripsi di beberapa perguruan tinggi.
Liauw Yock Fang (1975) mengatakan bahwa tema yang menonjol dalam sajak itu adalah nasib manusia di zaman modern dan ilmu pengetahuan yang sudah maju, tetapi peristiwa kelaparan dan bencana alam masih terjadi sehingga menimbulkan pertanyaan, apakah manusia tidak dapat mengatasi masalah itu. Teeuw memuji Subagio Sastrowardojo karena dalam sajaknya itu tidak ada satu kata atau unsur pun yang tampak berlebihan. Namun, itulah sebenarnya yang paling mengasyikkannya. Sajaknya menimbulkan kesertamertaan yang sejati.
Goenawan Mohamad membandingkan sajak Subagio Sastrowardojo dengan Chairil Anwar. Ia berpendapat bahwa kematian bukanlah lawan kehidupan, tetapi justru merupakan titik temu di antara titik lain di dalam mistar kehidupan. Kecemasan akan maut dalam sajak Chairil Anwar tidak terungkap dalam sajak Subagio Sastrowardojo walaupun sajak Subagio mengungkapkan ihwal kegelisahan yang sama dengan tendensi fatalisme yang sama pula. Burton Rafael dan Harry Aveling menyatakan bahwa sajak-sajak Subagio Sastrowardojo lebih menekankan nalar daripada rasa sehingga sajaknya menjadi sangat rasional meskipun denyut-denyut puitik masih terasa. Umar Junus berpendapat bahwa corak sajak-sajak Subagio Sastrowardojo memperlihatkan penggabungan dua unsur yang bertentangan, perlompatan, pernyataan, dan perulangan.
H.B. Jassin (1985) menyinggung dasar moral penyair yang merindu dalam ketiadaan. Situasi seperti itu menimbulkan ketegangan antara rasa moral dan ketiadaan moral yang menimbulkan soal pada penyair, tanpa ia sendiri jadi moralis.
Dengan Simphoni Dua ini Subagio Sastrawardoyo mendapat penghargaan SEA Write Award dari Kerajaan Thailand tahun 1991.