Tiga Puntung Rokok merupakan novel karya Nasjah Djamin. Novel itu diterbitkan oleh Pantja Simpati pada tahun 1985 setebal 229 halaman (14.5 x 21 cm). HB Jassin dalam kata pengantar novel itu menyatakan bahwa Tiga Puntung Rokok mencoba melukiskan gejolak batin manusia dalam masyarakat yang sedang mengalami modernisasi. Manusia-manusianya hidup dengan gaya hidup bebas.
Nasjah mengawali ceritanya dengan menampilkan seorang laki-laki tua jujur pengabdi negara yang hampir pensiun. Ia hidup di sebuah kota kecil dengan istri dan ketiga anaknya. Dengan gajinya yang kecil, laki-laki ini harus berhadapan dengan orang-orang yang bersedia menjual harga diri untuk mendapatkan kesenangan duniawi. Pada suatu hari, ia mendapat surat dari sahabat lamanya, Darto, untuk datang ke Jakarta untuk menggarap sebuah film.
Masri, nama tokoh utama dalam novel itu, memenuhi undangan sahabatnya itu. Di Jakarta inilah Masri menemukan gairahnya kembali untuk menulis, melukis, dan menggarap film. Bukunya dicetak ulang. Masri pun menjadi orang yang sukses. Ia bertemu dengan Marsina, kekasih lamanya, yang menjamin karya lukisnya dibeli orang. Laki-laki tua ini tiba-tiba menjadi jutawan, tetapi apakah Masri dapat bertahan pada dunianya yang baru, sebuah dunia yang mengharuskan seseorang mengubah dirinya menjadi kancil, atau bulus, atau ular untuk dapat bertahan hidup. Bahkan, mengharuskan seseorang menjual harga dirinya, seorang perempuan menjual miliknya yang paling berharga. Sebuah tempat, sebuah masyarakat yang hanya menghargai materi dan mengukur segala sesuatunya dengan materi serta menyelesaikan segala persoalan dengan materi. Apakah Masri dapat bertahan di dalam masyarakat seperti itu?
Seseorang harus menjadi orang yang keras saat menghadapi masyarakat seperti itu. Air mata hanya akan memperlemah saja, orang yang mengemis dan meminta belas kasihan saja tidak akan dapat bertahan hidup dalam masyarakat yang demikian. Manusia yang hanya dapat meminta belas kasihan, mengemis, dan pasrah, dalam masyarakat yang demikian dapat dikatakan sebagai bukan manusia lagi.
Sebagaimana novel-novel Nasjah lainnya, pengarang ini menampilkan tokoh-tokoh yang secara kuat mempertahankan eksistensinya sebagai seorang manusia. Nasjah Djamin memang dikenal sebagai salah seorang pengarang penganut aliran eksistensialisme. Beberapa karyanya yang lainnya juga menampilkan ciri serupa, misalnya Gairah untuk Hidup dan Gairah untuk Mati, yang di dalamnya memunculkan seorang tokoh yang sangat ingin diakui eksistensinya sehingga ia lebih baik mati daripada hidup tetapi tidak diakui keberadaannya.
Novel itu dengan baik sekali melukiskan dunia yang keras itu. Nasjah Djamin dengan intens melukiskan sebuah dunia yang memang dikenalnya dengan baik, dunia pengarang, dunia perfilman, dan dunia pelukis. Nasjah Djamin memang pernah menjadi art director, asisten sutradara, make-upman dalam beberapa produksi film. Dalam bidang teater Nasjah Djamin pernah mendalami pengetahuannya di bidang teater (Kabuki), Film dan TV di Tokyo, Jepang pada tahun 1961—1964. Ia juga seorang pelukis. Dalam dunia karang mengarang, Nasjah Djamin dapat digolongkan sebagai pengarang senior.
Pada novel Tiga Puntung Rokok tokoh utamanya, Masri, di dalam dunia perfilman dihadapkan pada persoalan bagaimana seorang produser harus menghadapi permintaan cukong yang meminta perempuan perawan agar dananya mengucur. Di dalam dunia pengarang, Masri harus berhadapan dengan aturan-aturan proyek inpres agar bukunya dapat diterbitkan. Di dalam dunia pelukis Masri harus mengikuti kemauan dan aturan si bos besar agar lukisannya laku terjual.
Gaya sinisme dan sarkasme muncul dalam novel itu: "Masri menarik napas. Kita semua menjadi maling, tapi dilakukan dengan sopan santun, ramah tamah yang bertumpuk dalam hati, jadi kemuakan!" . Hal-hal tersebut muncul untuk melengkapi gambaran sebuah masyarakat yang sudah tidak menghargai lagi moral, agama, dan tata nilai. Manusia yang hidup dengan baik-baik dipandang secara sinis. "Kau terlalu lama berseorang diri di jalan "baik"mu. Itulah sebabnya,". Masri yang kawin, beranak, hidup dari mengabdi ke negara dipandang sinis oleh bekas kekasihnya di dunianya yang lama, di dunia kesenimannya.
Novel karya Nasjah Djamin ini memang dengan lancar berhasil mengungkapkan sisi gelap dunia seniman yang memang dikenal baik oleh pengarangnya. HB Jassin (1993) menyatakan bahwa novel itu adalah biografi perjalanan hidup pengarangnya, petualangannya dan pematangan hidup kejiwaannya, suatu pertanggungjawaban di akhir perjalanannya sebagai seorang pengarang. Di sisi yang lain, novel itu juga dengan baik menampilkan kritik-kritik sosial terhadap kepincangan sosial, akibat modernisasi yang memang sedang melanda masyarakat. Hal itu memang merupakan salah satu ciri khas karya-karya Nasjah Djamin.